FSH UIN Jakarta Bekali Mahasiswa dengan Wawasan Kewirausahaan
FSH UIN Jakarta Bekali Mahasiswa dengan Wawasan Kewirausahaan

Berita Fsh, Teater Lt.2 — Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta  menyelenggarakan Pelatihan Kewirausahaan Mahasiswa, Senin (28/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Teater Lantai 2 FSH UIN Jakarta ini menjadi bagian dari upaya membekali mahasiswa dengan wawasan dan pengalaman kewirausahaan sebagai salah satu pilihan pengembangan karier setelah menyelesaikan studi.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III FSH UIN Jakarta, Prof. Dr. Kamarusdiana, M.H. Dalam sambutannya, Prof. Kamarusdiana menekankan pentingnya fokus, kegigihan, dan keikhlasan dalam mengejar cita-cita. Menurutnya, setiap individu perlu memiliki tujuan yang jelas dan terus berupaya mewujudkannya, sementara waktu tercapainya doa dan cita-cita merupakan kehendak Allah SWT.

Ia menjelaskan bahwa pelatihan kewirausahaan tersebut diselenggarakan untuk memberikan bekal kepada mahasiswa agar memiliki alternatif pilihan setelah lulus. FSH UIN Jakarta, kata dia, tidak hanya berkomitmen melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi kuat dalam bidang hukum, tetapi juga mendorong mahasiswa memiliki kemampuan kewirausahaan.

“Bagaimana Fakultas Syariah dan Hukum ke depan bukan lagi melahirkan para ahli hukum yang kuat di bidang praktisi maupun norma, tetapi juga kuat sebagai seorang entrepreneur,” demikian salah satu pokok sambutan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Selain pelatihan, kegiatan ini juga memperkenalkan ruang diskusi yang dikembangkan melalui dukungan Pegadaian Syariah. Fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan mahasiswa sebagai ruang untuk berdiskusi, mengembangkan gagasan, melakukan kajian, maupun membangun jejaring terkait kewirausahaan dan bidang keilmuan lainnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh dua narasumber, yakni Maryono, MBA, CFP, QIA selaku Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah Jakarta 2 dan Harry Akhmadi Nasution, seorang pebisnis sekaligus alumni yang memiliki pengalaman di bidang kewirausahaan. Sesi materi dipandu oleh moderator Nagib Jihadil Akbar.

Dalam pengantarnya, moderator menyampaikan bahwa kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan upaya memperoleh keuntungan, tetapi juga kemampuan melihat peluang dan menemukan ruang solusi di tengah berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu membangun pola pikir yang mampu membaca perubahan dan mengidentifikasi peluang sejak dini.

Harry Akhmadi Nasution kemudian berbagi pengalaman perjalanan kewirausahaannya sejak masih menjadi mahasiswa. Ia menceritakan bagaimana berbagai aktivitas yang dijalaninya sejak masa kuliah, termasuk berbisnis dan membangun jejaring, menjadi bagian dari proses membentuk pengalaman dan menentukan arah kariernya.

Harry juga mengajak mahasiswa untuk tidak hanya berorientasi pada pekerjaan setelah lulus, tetapi mulai membangun kemampuan untuk menciptakan peluang. Menurutnya, pengalaman berwirausaha sejak masa kuliah dapat menjadi salah satu langkah untuk mengenali potensi diri, membangun jejaring, serta memahami persoalan nyata yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.

Dalam pemaparannya, Harry turut mengangkat contoh pengembangan bisnis berbasis teknologi pengolahan limbah ban bekas menjadi bahan bakar melalui teknologi pyrolysis. Contoh tersebut digunakan untuk menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dan kebutuhan energi dapat dilihat sebagai ruang inovasi dan pengembangan usaha. Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap hubungan antara hukum, teknologi, dan perkembangan ekonomi dalam membangun sebuah usaha.

Selanjutnya, Maryono mengajak mahasiswa memahami perubahan ekonomi makro dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Menurut materi yang disampaikan, perubahan suku bunga global, geopolitik, harga komoditas, nilai tukar, serta kebijakan ekonomi dapat memengaruhi biaya hidup, pendidikan, pekerjaan, tabungan, hingga investasi mahasiswa.

Ia menekankan bahwa nominal uang tidak selalu mencerminkan daya beli. Karena itu, mahasiswa perlu memahami bagaimana menjaga nilai aset di tengah perubahan ekonomi dan inflasi. Kemampuan memahami dan mengelola aset sejak usia muda menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kebutuhan masa depan.

Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah emas sebagai salah satu instrumen investasi. Maryono menjelaskan bahwa emas dapat menjadi bagian dari diversifikasi aset, memiliki likuiditas, serta berpotensi membantu menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Namun, emas ditempatkan sebagai aset pelengkap dan bukan pengganti uang tunai.

Bagi mahasiswa, materi tersebut juga menyoroti pentingnya membangun kebiasaan finansial yang disiplin. Emas diperkenalkan sebagai salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk tujuan jangka panjang dan dapat dimulai dengan nominal yang relatif terjangkau. Dalam materi disebutkan, layanan Tabungan Emas dapat diakses mulai dari Rp10.000 melalui ekosistem digital Pegadaian.

Selain membahas investasi emas, Maryono memperkenalkan berbagai layanan Pegadaian, termasuk gadai, kredit, rahn, cicil dan tabungan emas, serta layanan berbasis digital melalui aplikasi Tring! by Pegadaian. Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna memantau harga emas, memonitor portofolio, serta melakukan transaksi emas.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan seputar kewirausahaan, pengelolaan aset, investasi emas, serta berbagai materi yang telah disampaikan oleh para narasumber. Untuk mendorong keaktifan mahasiswa, PT Pegadaian juga memberikan hadiah berupa saldo Tabungan Emas kepada peserta yang menyampaikan pertanyaan terbaik.

Menutup pemaparannya, Maryono mengajak mahasiswa untuk membangun kemampuan mengelola nilai kekayaan sejak dini. Menurut materi yang disampaikan, terdapat tiga hal utama yang perlu dibawa pulang dari sesi tersebut: emas merupakan salah satu pilihan, sedangkan literasi dan disiplin menjadi fondasi dalam pengelolaan keuangan. Mahasiswa juga didorong untuk terus belajar, merencanakan, dan mulai mengambil langkah dalam mengelola keuangan secara bijak.

Pada sesi akhir, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, Prof. Muhammad Maksum, S.H., M.D.C., memberikan sambutan sekaligus berbagi pengalaman ketika masih menjadi mahasiswa. Ia menceritakan bahwa sejak masa kuliah dirinya juga telah menjalani kegiatan kewirausahaan dengan berdagang. Pengalaman tersebut terus menjadi bagian dari perjalanan hidupnya hingga kemudian menjadi guru besar.

Prof. Muhammad Maksum berpesan kepada mahasiswa agar menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Menurutnya, pengalaman dan keberanian untuk memulai dapat menjadi bagian penting dalam membentuk kemandirian serta membuka berbagai peluang di masa mendatang.

Bagi mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, pemahaman tersebut dinilai relevan karena perkembangan dunia usaha kerap menghadirkan model bisnis dan teknologi baru yang membutuhkan kepastian serta penyesuaian dari sisi regulasi. Karena itu, mahasiswa hukum tidak hanya dituntut memahami norma, tetapi juga perlu memiliki wawasan mengenai dinamika bisnis dan perkembangan ekonomi.

Pelatihan tersebut diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa FSH UIN Jakarta mengenai berbagai kemungkinan pengembangan karier dan usaha, sekaligus mendorong mereka untuk lebih aktif mengenali peluang, membangun pengalaman, dan mengembangkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk sinergi FSH UIN Jakarta dengan PT Pegadaian dalam mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa, khususnya dalam bidang kewirausahaan, sehingga lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan profesional di bidang hukum, tetapi juga memiliki wawasan untuk menciptakan dan mengembangkan peluang di dunia usaha.(Nsc)

Kewirausahaan 2  Kewirausahaan 3

Kewirausahaan 4    Kewirausahaan 7

Kewirausahaan 8    Kewirausahaan 12

Kewirausahaan 10   Kewirausahaan 11