DEMA FSH UIN Jakarta Gelar Pendidikan Advokasi 2026 untuk Perkuat Kapasitas Mahasiswa dalam Perjuangan Kerakyatan
BERITA FSH, Aula Madya UIN Jakarta – Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (DEMA FSH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Pendidikan Advokasi 2026 bertema “Kristalisasi Gerakan Mahasiswa Syariah dan Hukum Menuju Perjuangan Kerakyatan Sejati” pada 26–27 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas mahasiswa dalam memahami hak asasi manusia, advokasi, analisis sosial, serta pengorganisasian masyarakat sebagai instrumen perjuangan mewujudkan keadilan sosial.
Pendidikan Advokasi 2026 dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami hukum secara normatif, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, keberpihakan terhadap kelompok rentan, serta kemampuan mengimplementasikan ilmu hukum melalui kerja-kerja advokasi yang nyata di tengah masyarakat.
Kegiatan dibuka secara resmi pada Jumat (26/6) dengan rangkaian acara pembukaan yang meliputi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mars Fakultas Syariah dan Hukum, sambutan Ketua Pelaksana, sambutan Ketua DEMA FSH UIN Jakarta, serta pembukaan kegiatan secara resmi.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) yang disampaikan oleh M. Nabil Hafizurrahman dari LBH Jakarta. Materi ini membahas konsep dasar HAM, perkembangan instrumen HAM di Indonesia, berbagai bentuk pelanggaran HAM, serta pentingnya perspektif hak asasi manusia dalam merespons persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Selanjutnya, Alif Fauzi Nurwidiastomo dari LBH Jakarta menyampaikan materi Pengantar Advokasi dan Bantuan Hukum. Dalam sesi tersebut peserta dibekali pemahaman mengenai konsep advokasi, mekanisme bantuan hukum, strategi pendampingan masyarakat, serta peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil dalam memperjuangkan hak-hak warga negara.
Sebagai bentuk implementasi materi, peserta dibagi ke dalam enam kelompok diskusi yang membahas berbagai isu strategis, yaitu kriminalisasi warga dan aktivis, konflik agraria, eksploitasi buruh dan pekerja rentan, krisis lingkungan, kekerasan seksual, serta komersialisasi pendidikan. Melalui studi kasus yang diberikan, peserta melakukan analisis terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dan merumuskan strategi advokasi yang relevan.
Pada hari kedua, peserta mengikuti materi Analisis Sosial dalam Advokasi yang disampaikan oleh Virdinda La Ode dari KontraS. Materi ini membekali peserta dengan kemampuan membaca realitas sosial secara kritis, mengidentifikasi akar persoalan, serta memetakan aktor dan kepentingan yang terlibat dalam suatu isu.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi Strategi Advokasi dan Pengorganisasian Masyarakat yang disampaikan oleh Ahmad Syahronny Fadhil. Dalam sesi ini peserta mempelajari pentingnya pengorganisasian masyarakat, konsolidasi warga, serta penyusunan agenda perjuangan sebagai langkah strategis dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat secara kolektif.
Sebagai materi penutup, Savero Aristia Wienanto, Jurnalis Tempo, menyampaikan materi mengenai Media dan Dokumentasi Pendampingan Masyarakat. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai teknik dokumentasi, penyusunan narasi isu, strategi komunikasi publik, serta pemanfaatan media sebagai sarana memperluas dukungan terhadap isu-isu kerakyatan.
Seluruh rangkaian Pendidikan Advokasi 2026 berlangsung dengan tertib dan kondusif. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif dalam diskusi, sesi tanya jawab, simulasi, dan penyusunan strategi advokasi pada setiap materi yang disampaikan.
Melalui kegiatan ini, DEMA FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berharap lahir mahasiswa yang memiliki kemampuan analisis sosial yang kuat, memahami mekanisme advokasi secara komprehensif, serta mampu mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam berbagai bentuk pengabdian dan pendampingan masyarakat. Pendidikan Advokasi 2026 diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun gerakan mahasiswa yang berorientasi pada nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan perjuangan kerakyatan yang berkelanjutan.





