Kabar menggmbirakan datang dari Mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab dalam rangka mengikuti MTQ ke XII tingkat Kota Tangerang Selatan tahun 2021, yang diadakan  di Kantor Pisat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan. (04/07/2021).

Lomba yang berlangsung selama dua hari sejak tanggal (02/07/2021) hingga (04/07/2021) malam hari tersebut menghasilkan harapan yang diwujudkan oleh dua Mahasiswa Prodi Perbandingan Mazhab, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif hidayatullah Jakarta, Raghib Muhammad Sakho Mahasiswa Semester 2 berhasil meraih juara 2 cabang 5 Juz dan Tilawah dan Adri Nur Aziz Mahasiawa Semeter 8 berhasil juara 3 cabang Murattal Qiraat Dewasa.

Melihat kilas balik dua mahasiswa tersebut ternyata mempunyai perjalanan yang cukup baik dalam melanglang buana mengikuti event-event MTQ, seperti Raghib Muhammad Sakho yang merupakan anak dari sepasang Qori Nasional, bapaknya Yasir Arafat dan Ibunya Qpri’ah Nasional Hj. Romlah Hasan, ia juga dibimbing menghafal sejak usia 10 tahun oleh Ust. Muhammad Salim sejak saat itu lah ia mulai meraih penghargaan MTQ lainnya, puncaknya pada Juara 1 MTQ Nasional di Batam, Kepulauan Riau sebagai Hizhil Qur’an 1 Juz dan Tilawah.

Raghib juga mengakui bahwa pada event kali ini kurang memuaskan dan juga diluar dugaan, apapun diluar itu Raghib tetap menerima hasil yang terbaik dari para dewan hakim, Raghib juga memaparkan kesulitan yang ia dapat selama perlombaan berlangsung, “Kesulitan tentu ada, seperti biasa peserta hifzil 5 juz dan tilawah, di awal saya membaca maqro’ tilawah yang sudah ditentukan sebelumnya, kemudian setelah itu dewan hakim penanya memberikan tiga soal diantaranya juz 1 sampai dengan 5,” ujarnya.

“Alhamdulillah dua soal diawal dapat sayat jawab dengan baik, tetapi disaat soal ketiga beberapa kali saya salah dalam membaca, juga mungkin karena sudah kehilangan fokus di awal, karena diawal soal ketiga saya salah menjawab, akhirnya itu membuat kepercayaan diri dan juga mental saya seketika runtuh dan berimbas kepada hafalan saya” tutupnya.

Dan juga dalam wawancara Adri menuturkan bahwasanya saat perlombaan dimulai dirinya mengaku sebagai peserta paling muda serta menerangkan kesulitan yang di alaminya, “Bisa dikatakan saya peserta termuda (22 tahun), karna memang cabang tersebut di batasi usianya sampai 39 tahun,” ujarnya.

“jalannya perlombaan pastinya lebih sulit, pengalaman tahun lalu saya ikuti Qiraat Remaja dan tahun ini tingkat Dewasa, karena dalam aturan waktu tampilnya lebih lama yaitu antara 10-12 menit, Alhamdulillah saya bisa melalui dengan penampilan yang baik, saya bersyukur meraih juara ke-3, tentu disamping itu saya berlatih dan tidak lepas berkat do’a orang tua, keluarga, kerabat dan dukungan do’a restu guru kami Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Baitul Qurro Ibunda Hj. Maria Ulfa, MA.” lanjutnya.

Adri juga membongkar rahasia ia selama ini yang menjadi motivasinya agar terus berkembang, ia juga menceritakan pada tahun 2016 ia sudah mempelajari Ilmu Qiraat, ia bertalaqqi Qiraat kepada gurunya Ustzah Hj. Malih Laila Naijhah, LC., MA. Beliau alumni Al-Azhar Mesir yang memiliki sanad Qira’at Asyrah Mutawattirah, dan ia juga memulai bertalaqqi dari riwayat Qalun Imam Nafi’ hingga kini masih ia perdalaml, dilain itu juga ternyata ada pesan guru yang ia masih pegang “Ilmu Qiraat adalah ilmu yang peru dilestarikan butuh waktu lama untuk mendalaminya.”

(Oleh : Fajar Pangestu)