Jakarta-Sabtu (27/11) telah berlangsung kegiatan seminar ilmiah serial ke 6 “Diskursus-Kritis Atas Terjemah Al-Qur’an Kemenag” melalui platform zoom. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Ilmuan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) DKI Jakarta ini bekerjasama dengan UIN Syarif Hidayatullah dan Program Studi Magister Hukum Keluarga (MHK) UIN Syarif Hidayatullah.

Seminar ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum MPN HISSI Prof. Dr. Drs. K.H. Muhammad Amin Suma, S.H, M.A., M.M, Sekretaris Umum MPN HISSI Dr. Kamarusdiana, M.H, Ketua Umum MPW HISSI DKI Jakarta Dr. Asmawi, M.Ag, Sekretaris Umum MPW HISSI DKI Jakarta Dr. H. Nahrowi, S.H, M.H, serta para pengurus MPN HISSI, MPW HISSI DKI Jakarta, MPW-MPW dan MPD-MPD HISSI Se-Indonesia. Seminar juga dihadiri oleh sejumlah kalangan di luar HISSI, seperti mahasiswa, ormas Islam, akademisi, dan masyarakat lainnya.

Menghadirkan 2 narasumber, yaitu Bapak Dr. Dede Rodin, M.A, selaku Dosen UIN  Walisongo, Semarang dan Dr. Abdul Muta’ali, MA, M.I.P, Ph.D, selaku Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia, yang dimoderatori oleh Nurrohim Yunus, L.L.M, selaku dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pada sesi pertama, Dr. Dede Rodin, M.A, menyampaikan bahwa politik terjemahan al-Quran yang dimaksud ialah kuasa Negara dalam merumuskan dan melaksanakan berbagai kebijakan Negara, terkait terjemahan al-Qur’an di Indonesia melalui lembaga yang berwenang. Penerjemahan al-Quran merupakan sesuatu yang bersifat kompleks dan problematik, yang tidak pernah mungkin mencapai kesempurnaan karena al-Quran menggunakan bahasa arab yang memiliki karakteristik khusus dan memiliki aspek kemukjizatan yang mana jika diterjemahkan  dalam bahasa lain kemungkinan besar memiliki peluang kehilangan karakteristik khasnya (diksi, kosa kata, dll). Penerjemahan al-Quran merupakan hal yang sangat penting, yang bertujuan memberikan pemahaman al-Quran bagi masyarakat yang awam. Terjemahan al-Qur’an Kementrian Agama dipandang sebagai terjemahan resmi Negara yang memiliki otoritas. Terjemahan al-Qur’an Kementerian Agama disusun oleh sebuah tim. Kendati demikian, terjemahan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan dengan menyatukan berbagai pemikiran, dan harus menemukan titik temu pada penerjemahan suatu kata, terlebih kata yang memiliki peluang makna yang banyak. Tetapi hal tersebut menjadi keidealan karena dilandasi dengan diskusi dalam memilih satu kata penerjemahan. Terjemahan al-Quran Kementrian Agama juga dijadikan sumber rujukan paling banyak bagi kaum muslim di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan hasil survei lembaga. Sehingga, terjemahan al-Qur’an Kementrian Agama memiliki pengaruh dalam mengkonstruksi bangunan pemahaman keagamaan masyarakat.

Pada sesi kedua, Dr. Abdul Muta’ali, MA, M.I.P, Ph.D menggunakan objek penelitian terjemahan al-Qur’an Kementrian Agama 2002 yang mana beliau mengkritisi dan menawarkan terjemahan. Beliau menemukan ada 70 ayat dalam juz 1- 20 dengan topik keamanan, kerukunan, dan kesetaraan yang diduga keliru dalam interpretasi gramatika dan budaya. Dari 70 ayat tersebut menghasilakan 7 model yang sifat kesalahannya berulang-ulang. 7 model kesalahan tersebut ialah model kesalahan interpretasu pola morfologis, model kesalahan interpretasi pola proses semantik, model kesalahan interpretasi pola diksi (fatal), model kesalahan interpretasu makna pilihan, model kesalahan interpretasu pola kolakasi semantik, dan model kesalahan interpretasi pilihan diksi historis.

Sumber berita: Nahrowi, Nanda Humairatuzzahrah.