Gerhana bulan total yang terjadi di hari Selasa tanggal 8 November 2022 atau 13 sd 14 Rabiul Akhir 1444 H tidak setiap tahun dialami oleh Indonesia menjadi peristiwa yang menarik untuk diamati, didiskusikan dan disoasialisasikan. Selain sebagai fenomena menarik secara saintifik juga sebagai bagian dari syiar ajaran agama Islam untuk mentadaburi alam dengan melakukan ritual ibadah yakni salat khusuf atau salat gerhana dengan kaifiyat tertentu. Inilah diantara yang melatar belakangi LSo IASC mengadakan kegiatan seminar, pengamatan, dan salat gerhana sekaligus.

Kegiatan di awali dengan Seminar Gerhana Bulan Total yang dibuka dengan sambutan dari ketua panitia Sdr. Masyitoh, ketua LSO IASC yang diwakili oleh Sdr. Fawwaz, dan Dr. Hj. Maskufa, M.A. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Pembina LSO IASC yang mewakili Dekanat. Dalam sambutannya, Ibu Maskufa mengapresiasi gelaran LSO IASC yang memadukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pertama seminar sebagai sarana untuk menambah wawasan tentang fenomena gerhana bulan total baik dari aspek sains astronomi maupun aspek ajaran agama Islam. Kedua, pengamatan atau observasi sebagai sarana untuk mengkonfirmasi fenomena GBT ini secara factual di langit semesta. Ketiga, salat khusuf sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat Nya. Kehadiran narasumber yang kompeten di bidangnya akan menambah khidmat kegiatan ini. Selamat mengikuti kegiatan ini sampai akhir. Lanjutnya.

Narasumber pertama, H. Cecep Nurwendaya, M.Si., dari Observatorium dan Planetarium Jakarta, peneliti astronomi dan anggota dewan pakar Tim Unifikasi Kalendeder Hijriyah Kemenag RI, menyampaikan presentasinya dengan Tema “Gerhana Bulan Perpektif Ilmu astronomi dan Islam, Sebagai Tanda Kebesaran Allah SWT dalam Rangka Mengaktualisasikan Keimanan”. Menurutnya GBT – 8 November 2022 termasuk ke dalam gerhana ke-20 dari 72 gerhana dalam Seri Saros 136 (1680 – 2960). Siklus saros adalah siklus perulangan gerhana dalam geometri yang sama, besarnya 223 kali periode sinodis bulan lamanya 18 tahun 10 hari atau 18 tahun 11 hari bergantung pada jumlah tahun kabisat dalam siklus tersebut. Tanggal berlangsungnya gerhana bergeser sekitar 11 hari lebih lambat dari tanggal gerhana pada seri saros yang sama sebelumnya. Dari Rukun Islam yang lima hanya syahadat saja yang tidak berhubungan dengan fenomena alam, karenanya integrasi antara ajaran Islam dalam 4 rukun Islam itu dengan aspek sains astronomi, geografi, dan matematika.

Selanjutnya narasumber kedua, K.H. Siril Wafa, M.A., Ketua Lembaga Falakiyah PB NU, anggota Komisi Fatwa MUI, dan Dewan pakar Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag RI. Menyampaikan tentang Gerhana Bulan dalam Perspektif Islam. Secara historis peristiwa gerhana bulan di masa Rasulullah pernah terjadi sekali yaitu pada bulanJumadil Akhir tahun 5 H sedangkan gerhana matahari terjadi 2 kali yaitu di bulan Jumadil Akhir tahun 2 H dan bulan Rabiul Awal tahun 8 H. Adapun petunjuk Rasulullah Saw saat terjadinya gerhana adalah jangan dikaitkan dengan hidup atau matinya seseorang, diperintahkan untuk melaksanakan salat gerhana (khusuf al-qamar atau Kusuf al- syams ) sesuai dengan sabdanya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antaratanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseoarng atau lahirnya seseorang. Jika melihat itu maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah. (HR.Bukhori no.1044).

Setelah kegiatan seminar ini dilanjutkan dengan persiapan pengamatan dan salat gerhana. Kegiatan ini semula direncanakan di lapangan Masjid SC UIN Jakarta, namun karena cuaca yang sedang tidak bersahabat, hujan dan mendung tebal, pengamatan dialihkan ke gedung FSH Lt.7. demikian juga dengan salat khusuf. Visual GBT tidak dapat dinikmati karena tertutup oleh mendung yang cukup tebal, namun demikian tidak mengurangi semangat teman-teman mahasiswa untuk mengikuti rangkaian kegiatan sampai akhir. ( LSO IASC )